Aku hanya ingin bercerita, coretan-coretan kecil yang barangkali
memberi makna ...
Sekilas
Bicara Tentang Cinta ...
Cinta dan seluruh kedaimaian di
dalamnya. Bagaimana jika kamu rasakan cintamu bisu? Mencintai dalam diam.
Mencintai dalam renungan malam bersama sujud-sujud dalam ibadahmu. Mencintai
dalam diam, bersama rangkulan-rangkulan doa yang kau panjatkan agar dia terjaga
hatinya dan juga senantiasa dilindungi oleh sang pemilik hidup. Hingga pada
suatu saat yang tepat. Suatu saat ketika waktu telah menemui jalannya. Menemui
sang pemiliknya. Kamu menemuinya dengan ucapan atas nama Tuhan.
Adakah diantara kamu yang merasa
keperkasaan cinta yang tidak terbatas? Dan bukankah waktu, sebagaimana cinta,
tidak bersekat dan terbagi dalam ruang-ruang? Kamu tak perlu khawatir akan
cintamu pergi dan mencari cinta yang lain. Cukup dengan selalu memperbaiki diri
kamu, terus belajar, dan terus berusaha lagi dan lagi.
Kamu hanya butuh memberi spasi
kepada hatimu, agar mampu menjalankan apa yang telah menjadi tugasnya. Hatimu
hanya perlu bersabar dan berdoa. Bukan berharap kepada sesuatu yang bahkan tak
akan mampu membalas harapmu itu.
Kadang kamu merasa dalam kedinginan
malam, kamu kesepian dalam diam. Mencoba menutup mata tapi tak mampu. Kamu juga
merindukan, namun kamu tak paham tentang apa yang kamu rindu dan dengan siapa
kamu merasa rindu. Kamu bahkan sempat menitihkan air mata karena sedih. Namun
kamu tak tahu pasti tentang alasan mengapa kamu bersedih.
Kamu hanya butuh berdoa.
Ditenangkan hatinya, dijernihkan pikirannya. Dua titik kunci antara pikiran dan
hati harus senantiasa sama kamu jaga keselarasannya. Dua titik kunci yang
selalu menjadi pemegang penuh arah bentuk hati dan pikiranmu kedepannya. Tentang
cinta, yang kadang membuatmu lupa bahwa banyak hal lain yang bisa kamu lakukan selain berkeluh kesah, gelisah
dan sedih tanpa arah.
Kesendirian? Tuhan tak akan pernah
membiarkanmu sendiri. Jikapun kamu tak memiliki suatu apapun untuk dilakukan
dan difikirkan sesungguhnya kamu memiliki banyak teman yang tersembunyi, dan kamu
tak sadar milikki itu. Kamu diam-diam menangis meratapi sepi, namun sesungguhnya
kamu memiliki banyak hal untuk membuatmu merasa ramai dan tak sendiri lagi.
Kamu hanya butuh teman dalam
bayanganmu saat menatap masa depan. Kamu hanya butuh bayangan yang selalu
mengikutimu dari belakang. Bayangan yang akan selalu membuatmu merasa hidup.
Bayangan yang selalu membuatmu merasa ada. Dengarlah, yang meratapi karena sepi
sesungguhnya orang-orang yang tidak bersyukur. Meratapi karena takut sendiri
sesungguhnya orang-orang yang tak tahu cara berdoa.
Sesungguhnya cinta tahu dimana dia
akan tumbuh pada hati-hati yang sabar dan terus memperbaiki dirinya jauh lebih
baik lagi dari sebelumnya. Cinta telah menemui jalannya sendiri ketika kamu
mampu bersabar menanti kedatangannya. Saat kamu sabar menanti harapan-harapan
yang digantungkan yang Maha pemilik harap, Maha penampung doa, Maha segalanya.
Cinta tak mudah datang lalu pergi begitu saja. Cinta juga tak mudah berganti
lalu hilang tanpa jejak. Bagaimana dengan cintamu? Masihkah mampu untuk
menggantung harap pada sesuatu yang belum tentu memberi harap itu? Ataukah
memilih untuk sabar, berdoa dan terus memperbaiki diri? Cinta yang kamu kejar
harus sesuai dengan usahamu memperbaiki diri.
Aku selalu bilang,
cinta itu seperti lingkaran, tanpa titik awal pun tanpa titik akhir. Melingkar
dan terus melingkar.
Menjelang
Senja
Padang, 4 Mei
2014
Salam,
Beeoni